Monthly Archives: May 2017

BIG DATA

 

 ibm-big-data

Big Data adalah sebuah teknologi baru di dunia teknologi informasi dimana memungkinan proses pengolahan, penyimpanan dan analisis data dalam beragam bentuk/format, berjumlah besar dan pertambahan data yang sangat cepat. Pengolahan dan analisis data dalam jumlah sangat besar ini memerlukan waktu yang relatif jauh lebih singkat dengan menggunakan Big Data dibanding teknologi data sebelumnya, misalnya. database relational seperti MySQL.

Ciri-ciri data yang ditangani oleh Big Data:

  1. Jumlah nya sangat besar (Volume). Biasanya ukuran total data dalam terabytes keatas.
  2. Pertumbuhan data sangat cepat (Velocity) sehingga data bertambah dalam jumlah yang sangat banyak dalam kurun waktu relatif singkat.
  3. Bentuk atau format datanya beraneka ragam (Variety). Format disini bisa berupa data dalam tabel-tabel relasional database seperti MySQL, file text biasa, File Excel atau bentuk apapun.

Manfaat yang bisa diberikan dari Big Data antara lain bisa memberikan gambaran yang lebih lengkap dari sebelumnya karena biasanya data yang dianalisis adalah data terstruktur misalnya data relasional database.

Perusahaan menggunakan metodologi big data analytic tidak hanya untuk mengetahui perilaku pelanggan dan melakukan analisa hasil komunikasi marketing, namun juga Big Data telah mengubah cara perusahaan melakukan bisnisnya. Big data analytic juga menentukan bagaimana perusahaan melaksanakan operasional dan mendapatkan keunggulan kompetisi dalam bersaing. Glenn Finch dari IBM menyampaikan tentang empat manfaat Big data analytic dan yang perlu diingat ketika memulai analisa Big Data.

  1. Payback period big data terjadi dalam waktu yang cepat : Dalam penelitian IBM Institute Business Value, “Analytics: The Speed Advantage,” sekitar 63 persen dari perusahaan yang disurvei mendapatkan return dalam waktu satu tahun, dan 26 persen akan mendapatkan return di enam bulan.
  2. Perusahaan semakin meningkatkan penggunaan Big Data untuk mengatasi tantangan operasional : Pelanggan masih merupakanfokus terbesar, tetapi perusahaan telah mulai menggunakan Big Data untuk mengelola kembali proses back-office dan operasional
  3. Organisasi menciptakan kembali proses bisnis dengan menggunakan teknologi digital : Perusahaan yang memacu pertumbuhan dengan business mobility, cloud analytic menggunakan ponsel, cloud, analytics, dan bisnis sosial untuk memikirkan kembali bagaimana mereka mengatur proses mereka. Perusahan menggunakan teknologi sosial dan mobile, misalnya, bagaimana untuk mengubah cara orang terhubung, bertransaksi dan terlibat dengan perusahaan, lembaga dan pemerintah. Perusahaan memanfaatkan data yang lebih baik untuk meningkatkan pendapatan dan mengurangi biaya. Data baru dan analisis mutakhir untuk proses bisnis yang lebih responsif.

Contoh di atas hanya sebagian kecil dari pemanfaatan teknologi Big Data. Masih banyak sektor lain dan masalah yang bisa diaplikasikan dan dipecahkan untuk memajukan Indonesia. Beberapa di antaranya seperti pengelolaan energi, makanan, pendidikan, keamanan, hingga mengurangi kemiskinan. Dengan teknologi, diharapkan akan lebih banyak anak muda dan juga startup yang menggunakan Big Data untuk memecahkan masalah dan memajukan negara ini di masa mendatang


SliMS (Senayan Library Management System)

Pengertian SLiMS

SLIMS adalah perangkat lunak sistem manajemen perpustakaan (library management system) sumber terbuka yang dilisensikan di bawah GPL v3. Aplikasi ini pertama kali dikembangkan dan digunakan oleh Perpustakaan Kementerian Pendidikan Nasional, Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat, Kementerian Pendidikan Nasional. Aplikasi SLIMS dibangun dengan menggunakan PHP, basis data MySQL, dan pengontrol versi Git. Pada tahun 2009, SLIMS mendapat penghargaan tingkat pertama dalam ajang INAICTA 2009 untuk kategori open source.

Ketika dirilis pertama kali, SLIMS baru diunduh 704 kali. Angka ini melonjak menjadi 6.000 kali lebih pada Desember 2007 dan 11 ribu lebih Januari 2008. Adapun pada Oktober lalu program itu sudah diunduh hampir 27 ribu kali. Dengan demikian, total sudah 250 ribu kali lebih program itu diunduh. Saat ini SLIMS telah digunakan luas oleh berbagai perpustakaan, baik di dalam maupun luar negeri.

Sejarah Pengembangan

Senayan pertama kali digunakan di Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional. Pengembangan Senayan dilakukan oleh SDC (Senayan Developers Community). Di koordinir oleh Hendro Wicaksono, dengan Programmer Arie Nugraha, dan Wardiyono. Sementara dokumentasi dikerjakan oleh Purwoko, Sulfan Zayd, M Rasyid Ridho, dan Arif Syamsudin. Pada Januari 2012, developer SLiMS bertambah 2 orang, yaitu: Indra Sutriadi Pipii (Gorontalo) dan Eddy Subratha (Jogjakarta). Selain itu, ada pula programmer Tobias Zeumer, dan Jhon Urrego Felipe Mejia. Situs resmi SLiMS, saat ini ada di http://slims.web.id.

Menurut Hendro Wicaksono dan Arie Nugraha, anggota tim pengembang Senayan, program manajemen perpustakaan ini pertama kali dikembangkan pada November 2006. Waktu itu, para pengelola Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional di Jakarta tengah kebingungan karena program manajemen perpustakaan Alice habis masa pakainya. Alice adalah perangkat lunak bikinan Softlink sumbangan Pusat Kebudayaan Inggris, British Council.

Departemen tak memiliki anggaran untuk memperpanjang masa pakai Alice. Selain itu, Alice adalah produk tidak bebas (proprietary) yang serba tertutup. Staf perpustakaan sulit mempelajari program tersebut. Alice bahkan tak dapat dipasang di server atau komputer lain, sehingga tidak dapat didistribusikan ke perpustakaan di lingkungan departemen tersebut.

Hendro lantas mengusulkan ke Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat, yang memayungi perpustakaan di departemen itu, untuk membuat program baru sebagai pengganti Alice. ”Karena awalnya dikembangkan dengan uang negara, harus bisa diperoleh secara bebas oleh masyarakat,” katanya. Software baru itu kemudian dikembangkan dengan General Public License, sistem perizinan yang lazim digunakan dalam perangkat lunak berbasis sumber terbuka. Perizinan ini mensyaratkan agar software tersebut harus dapat digunakan, dipelajari, diubah, dan didistribusikan ke pihak lain secara bebas.

  1. Perkembangan Teknologi Informasi (TI) yang sudah semakin maju dan sudah menjalar ke berbagai bidang sudah tidak bisa di pungkiri lagi. Banyak orang yang sudah menggunakan berbagai macam teknologi untuk menunjang pekerjaan mereka, khususnya di perpustakaan. Perpustakaan sebagai salah satu Instansi yang bersinggungan langsung dengan pelayanan publik selalu dituntut untuk selalu berinovasi. Tujuan perpustakaan melakukan inovasi yaitu untuk memudahkan pengguna dalam mengakses informasi atau koleksi yang disediakan perpustakaan tersebut. Kebanyakan perpustakaan saat ini sudah mulai menggunakan sistem digital atau bisa di sebut juga sistem otomasi. Sistem otomasi merupakan sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan bantuan Teknologi Informasi (TI). Dengan otomasi perpustakaan proses pengolahan data koleksi perpustakaan menjadi lebih akurat dan cepat untuk ditelusuri kembali. Otomasi Perpustakaan (Library Automation) juga merupakan pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) untuk kegiatan-kegiatan perpustakaan meliputi pengadaan, pengolahan, penyimpanan dan menyebarluaskan informasi juga mengubah sistem perpustakaan manual menjadi sistem perpustakaan yang terkomputerisasi.
    Penggunaan sistem otomasi itu sangat penting. Jika suatu perpustakaan memiliki banyak koleksi dan memiliki banyak peminjam maka sistem otomasi itu sangat berguna sekali. Otomasi perpustakaan juga dapat membantu karyawan-karyawan yang ada di perpustakaan dalam proses pelayanannya dan dapat membantu memudahkan pengguna dalam menemukan informasi yang mereka butuhkan. Hal ini pelayanan yang ada di perpustakaan tersebut dapat dilakukan secara cepat dan akurat. Manfaat dalam menerapkan sistem otomasi antara lain:
    1. Mengatasi keterbatasan waktu
    2. Mempermudah akses informasi dari berbagai pendekatan misalnya dari judul, kata kunci judul, pengarang, kata kunci pengarang dsb.
    3. Dapat dimanfaatkan secara bersama-sama
    4. Mempercepat proses pengolahan, peminjaman dan pengembalian
    5. Memperingan pekerjaan
    6. Meningkatkan layanan
    7. Memudahkan dalam pembuatan laporan statistik
    8. Menghemat biaya

Selain itu juga sistem otomasi memiliki beberapa tujuan yaitu :
1. Memudahkan integrasi kegiatan perpustakaan.
Dengan adanya otomasi perpustakaan maka ketiga kegiatan ini dapat terintegrasi sehingga stok bahan pustakan secara lasung dapat terpantau dan akan memudahkan pada kegiatan sirkulasi peminjaman maupun untuk kegiatan penelusuran bahan pustakan, karena secara pasti pengguna perpustakaan mengetahui stock bahan pustaka dan di lemari mana bahan pustaka berada.
2. Memudahkan kerja sama dan pembentukan jaringan perpustakaan.
Dengan adanya otomasi maka akan memudahkan kerjasa antar perpustakaan karena tersedianya alat komunikasi data yang sudah cukup cangggih yaitu jaringan internet. Dengan adanya internet maka antar perpustakan dapat melukan komunikasi setiap saat dan antar perpustakaan juga dapat melakukan pengiriman data dan tukar menukar data dan informasi.
3. Membantu menghindari duplikasi kegiatan di perpustakaan.
Pada otomasi perpustakaan semua kegiatan pendataan dilakukan secara komputerise sehingga terbangun suatu basis data atau pangkalan data. Dengan adanya basis data ini maka akan terhidari duplikasi kegiatan diperpustakaan.
4. Menghindari dari pekerjaan yang bersifat mengulang dan membosankan. Dengan menggunakan otomasi perpustakaan kegiatan ini akan mudah dilakukan oleh petugas perpustakan karena cukup memanfaatkan basis data dengan bantuan program atau software komputer maka pencetakan label punggung bahan pustaka, katalog bahan pustakan dan barcode bahan pustaka dengan mudah dapat dilakukan.
5. Meningkatkan Efisiensi.
Otomasi perpustakaan memberikan dampak yang lebih baik bagi pengelola perpustakaan dan pengguna perpustakaan. Hal ini disebabkan kerena adanya efisiensi yang terjadi dalam otomasi perpsutakaan tersebut. Dengan adanya otomasi perpustakaan maka efisiensi tenaga, waktu dan biaya akan terasa bagi pengelola perpustakaan, demikian juga bagi pengguna perpustakaan karena pengguna perpustakaan dapat mengakses data dan informasi bahan pustaka dari mana dan kapan pun.
Salah satu sistem otomasi yaitu Inlis Lite. Inlis Lite merupakan perangkat lunak (Software) yang dibuat Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 2011. Nama Inlis Lite diambil dari kata Integrated Library System. Perangkat lunak ini dibangun sejak tahun 2003 sebagai keperluan kegiatan rutin pengelolaan informasi perpustakaan di internal Perpusnas.
Seiring dengan perkembangan dunia perpustakaan, khususnya di Indonesia, Perpusnas memandang perlu untuk memfasilitasi semangat pengelola perpustakaan di seluruh daerah untuk memulai menerapkan otomasi perpustakaan menuju terwujudnya perpustakaan digital, maka Perpusnas berinisiatif untuk mendistribusikan perangkat lunak ini dalam versi yang lebih ringan dengan nama Inlis Lite.
Inlis Lite merupakan inisiatif Perpusnas dalam rangka penyediaan sarana pendukung untuk :
1. Membantu pengembangan otomasi perpustakaan di seluruh Indonesia.
2. Sebagai tool perpustakaan digital untuk mengelola koleksi full teks dan multimedia
3. Membantu dalam pembentukan katalog elektronis berbasis MARC untuk Indonesia (INDOMARC).
4. Melaksanakan program nasional yang diamanatkan kepada Perpusnas untuk menghimpun data koleksi nasional dalam sebuah Katalog Induk Nasional (KIN) dan Bibliografi Nasional Indonesia (BNI) dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
5. Membantu pembentukan Katalog Induk Daerah (KID) dan Bibliografi Daerah (BiD) yang diselenggarakan oleh perpustakaan umum provinsi bersama mitra kerjanya di tingkat kabupaten dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
Inlis Lite mempunyai beberapa karakteristik antara lain yaitu yang pertama Perangkat lunak berbasis web (web application software). Dalam pengoperasiannya menggunakan aplikasi browser internet yang umum digunakan untuk menjelajahi informasi di internet. Kedua, Instalasi perangkat lunak INLIS Lite cukup dilakukan pada satu komputer yang difungsikan sebagai pangkalan data. Komputer operator cukup mengkoneksikan dirinya melalui perangkat jaringan, baik secara lokal LAN, WAN, maupun Internet. Ketiga, Dapat dioperasikan secara bersamaan dalam satu waktu secara simultan (multi user ready). Keempat, Menggunakan metadata MARC (Machine Readable Cataloguing) dalam pembentukan katalog digitalnya. Dan yang terakhir, Bebas pakai atau gratis (freeware).
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia membuat syarat dan ketentuan yang diberlakukan dalam penggunaan Inlis Lite antara lain:
1. Seluruh perpustakaan lembaga maupun perorangan yang membutuhkan dipersilahkan untuk menyalin, menginstalasi, dan memanfaatkan perangkat lunak aplikasi Inlis Lite.
2. Seluruh perpustakaan lembaga maupun perorangan yang membutuhkan dipersilahkan untuk menyalin dan menginstalasi komponen perbaikan program (patch) dan komponen pemutakhir program (update) apabila tersedia.
3. Dilarang memperjualbelikan paket instalasi, komponen perbaikan (patch), maupun komponen pemutakhir (update) prgram aplikasi Inlis Lite.
4. Dukungan teknis (technical support) akan diberikan oleh Perpusnas kepada pengguna perangkat lunak Inlis Lite selama mematuhi syarat dan ketentuan yang berlaku. Untuk mendapatkan dukungan teknis seperti bantuan dalam melakukan instalasi, update, pemecahan masalah, dan backup data dapat ditempuh dengan beberapa cara :
• Panduan via perangkat komunikasi (telepon dan chatting)
• Penanganan oleh tim technical support secara remote menggunakan program aplikasi remote desktop seperti Windows Remote Desktop, TeamViewer, dan sejenisya
• Mengirimkan internal storage unit (Harddisk) melalui jasa pengiriman barang.
• Mengirimkan unit CPU komputer melalui jasa pengiriman barang.
• Datang langsung ke Perpustakaan Nasional RI dengan membawa komputer yang akan diinstalasi / akan dilakukan pemecahan masalah
• Mengundang staf teknis Perpustakaan Nasional RI sesuai peraturan perjalanan dinas yang berlaku
5. Bimbingan teknis akan diberikan oleh Perpusnas selama mematuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia juga membuat Modul-Modul dan Fitur Inlis Lite. Modul-modul utama dan yang ada pada versi ini adalah Back Office, OPAC (Online Public Access Catalogue), Keanggotaan Online, Pendaftaran Anggota (Mandiri), dan Checkpoint (Buku Tamu).
Modul back office adalah bagian dari program aplikasi yang operasionalisasinya hanya boleh dilakukan oleh operator yang diberikan akun berupa username dan password serta hak akses tertentu sesuai dengan wewenang yang diberikan kepadanya. Dengan username dan password tersebut, operator dapat mengakses modul back office melalui mekanisme login. Modul Back Office dibagi menjadi beberapa bagian antara lain yang pertama Modul Akuisisi. Modul ini digunakan untuk melakukan pengelolaan terhadap data koleksi atau item atau eksemplar yang diadakan (diakuisisi). Di dalam modul back office ini terdapat beberapa sub-sub modul sebagai berikut:
1. Setting Akuisisi
Merupakan penentuan parameter-parameter dan master data yang akan dikaitkan dengan data koleksi yang diadakan. Setting akuisisi terdiri dari setting rekanan (vendor/distributor), seting kategori koleksi, setting sumber koleksi (sumber perolehan), setting media koleksi, setting lokasi (penempatan koleksi), dan setting nomor induk koleksi. Sebaiknya perubahan setting hanya dilakukan oleh seseorang yang diberi wewenang sebagai Administrator sistem.
2. Entri Koleksi
Merupakan sarana untuk memasukkan data koleksi. Di beberapa perpustakaan besar seperti Perpustakaan Nasional RI, alur kerja pengelolaan bahan pustaka dimulai dari kegiatan registrasi koleksi, setelah itu barulah dibuatkan data katalognya. Untuk perpustakaan alur kerjanya lebih sederhana, entri koleksi dapat dilakukan setelah pembuatan katalog di modul Katalog.
3. Daftar Koleksi
Merupakan sarana untuk menampilkan daftar dan mencari koleksi atau item atau eksemplar yang telah diinput melalui form entri koleksi, baik dalam modul akuisisi maupun modul katalog.
4. Daftar Usulan Koleksi
Ini adalah fitur tambahan yang masih memerlukan pengembangan lebih lanjut. Di sini akan ditampilkan data-data koleksi yang diusulkan oleh anggota perpustakaan melalui form usulan dalam modul OPAC
5. Import Data dari Excell
Merupakan sarana untuk melakukan import data koleksi (hasil hunting) yang diketik dalam format dokumen Excell
6. Stock Opnam
Stock Opnam adalah sarana untuk melakukan invertarisasi ulang terhadap koleksi yang dimiliki. Membandingkan antara data koleksi yang terimpan dalam pangkalan data dengan data koleksi fisik.
Sub-sub bab yang kedua Modul Katalog. Modul ini digunakan untuk mengelola data katalog serta menghubungkannya dengan data koleksi / item / eksemplar. Ketiga, Modul Keanggotaan Modul ini digunakan untuk melakukan pengelolaan data anggota perpustakaan. Dalam modul ini disediakan fitur untuk melakukan pengambilan foto secara langsung dengan web camera dan mencetak kartu anggota. Keempat, Modul Sirkulasia adalah modul yang digunakan untuk melakukan pencatatan transaksi peminjaman dan pengembalian koleksi. Kelima, Modul Laporan. Modul laporan adalah sarana untuk membentuk dokumen laporan sesuai kriteria yang diatur oleh operator, dan yang terakhir Modul Administrasi. Modul ini hanya boleh diakses oleh petugas yang diberi wewenang sebagai administrator.
Modul OPAC (Online Public Access Catalogue). Modul Online Public Access Catalogue (OPAC) adalah sarana bagi pemustaka untuk mencari data koleksi yang dibutuhkannya. Tidak perlu login untuk membuka modul program ini.
Modul Keanggotaan Online. Modul keanggotaan online dapat digunakan oleh anggota perpustakaan untuk melihat profil keanggotaannya serta daftar transaksi peminjaman yang pernah dilakukannya. Modul ini juga dapat dijadikan pengingat bila anggota tersebut belum mengembalikan koleksi yang dipinjamnya. Ke depan, modul ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi sarana untuk menampilkan transaksi baca di tempat, melakukan pemesanan bahan pustaka, serta mengajukan saran dan pertanyaan seputar layanan perpustakaan.
Modul Pendaftaran Anggota (Mandiri). Ini merupakan sarana untuk pendaftaran keanggotaan secara mandiri. Dengan adanya modul ini diharapkan beban petugas layanan menjadi lebih ringan karena calon anggota dapat menginput sendiri data-datanya saat mendaftar menjadi anggota.
Modul Checkpoint (Buku Tamu). Modul ini sebenarnya adalah buku tamu elektronik yang dapat digunakan sebagai pengganti buku tamu tradisional (tulis tangan). Dengan adanya modul ini diharapkan pencatatan data pengunjung perpustakaan menjadi lebih cepat dan laporan data pengunjung dapat segera terlihat kapanpun dibutuhkan. Saat ini jenis pengunjung yang dapat dicatat adalah anggota dan non anggota. Pada versi INLIS Lite berikutnya akan ditambah dengan pencatatan data pengunjung rombongan.

SliMS (Senayan Library Management System)
Pengertian SLiMS
SLIMS adalah perangkat lunak sistem manajemen perpustakaan (library management system) sumber terbuka yang dilisensikan di bawah GPL v3. Aplikasi ini pertama kali dikembangkan dan digunakan oleh Perpustakaan Kementerian Pendidikan Nasional, Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat, Kementerian Pendidikan Nasional. Aplikasi SLIMS dibangun dengan menggunakan PHP, basis data MySQL, dan pengontrol versi Git. Pada tahun 2009, SLIMS mendapat penghargaan tingkat pertama dalam ajang INAICTA 2009 untuk kategori open source.
Ketika dirilis pertama kali, SLIMS baru diunduh 704 kali. Angka ini melonjak menjadi 6.000 kali lebih pada Desember 2007 dan 11 ribu lebih Januari 2008. Adapun pada Oktober lalu program itu sudah diunduh hampir 27 ribu kali. Dengan demikian, total sudah 250 ribu kali lebih program itu diunduh. Saat ini SLIMS telah digunakan luas oleh berbagai perpustakaan, baik di dalam maupun luar negeri.
Sejarah Pengembangan
Senayan pertama kali digunakan di Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional. Pengembangan Senayan dilakukan oleh SDC (Senayan Developers Community). Di koordinir oleh Hendro Wicaksono, dengan Programmer Arie Nugraha, dan Wardiyono. Sementara dokumentasi dikerjakan oleh Purwoko, Sulfan Zayd, M Rasyid Ridho, dan Arif Syamsudin. Pada Januari 2012, developer SLiMS bertambah 2 orang, yaitu: Indra Sutriadi Pipii (Gorontalo) dan Eddy Subratha (Jogjakarta). Selain itu, ada pula programmer Tobias Zeumer, dan Jhon Urrego Felipe Mejia. Situs resmi SLiMS, saat ini ada di http://slims.web.id.
Menurut Hendro Wicaksono dan Arie Nugraha, anggota tim pengembang Senayan, program manajemen perpustakaan ini pertama kali dikembangkan pada November 2006. Waktu itu, para pengelola Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional di Jakarta tengah kebingungan karena program manajemen perpustakaan Alice habis masa pakainya. Alice adalah perangkat lunak bikinan Softlink sumbangan Pusat Kebudayaan Inggris, British Council.
Departemen tak memiliki anggaran untuk memperpanjang masa pakai Alice. Selain itu, Alice adalah produk tidak bebas (proprietary) yang serba tertutup. Staf perpustakaan sulit mempelajari program tersebut. Alice bahkan tak dapat dipasang di server atau komputer lain, sehingga tidak dapat didistribusikan ke perpustakaan di lingkungan departemen tersebut.
Hendro lantas mengusulkan ke Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat, yang memayungi perpustakaan di departemen itu, untuk membuat program baru sebagai pengganti Alice. ”Karena awalnya dikembangkan dengan uang negara, harus bisa diperoleh secara bebas oleh masyarakat,” katanya. Software baru itu kemudian dikembangkan dengan General Public License, sistem perizinan yang lazim digunakan dalam perangkat lunak berbasis sumber terbuka. Perizinan ini mensyaratkan agar software tersebut harus dapat digunakan, dipelajari, diubah, dan didistribusikan ke pihak lain secara bebas.


SLIMS

Tags :

Category : IT Solution

Perkembangan Teknologi Informasi (TI) yang sudah semakin maju dan sudah menjalar ke berbagai bidang sudah tidak bisa di pungkiri lagi. Banyak orang yang sudah menggunakan berbagai macam teknologi untuk menunjang pekerjaan mereka, khususnya di perpustakaan. Perpustakaan sebagai salah satu Instansi yang bersinggungan langsung dengan pelayanan publik selalu dituntut untuk selalu berinovasi. Tujuan perpustakaan melakukan inovasi yaitu untuk memudahkan pengguna dalam mengakses informasi atau koleksi yang disediakan perpustakaan tersebut. Kebanyakan perpustakaan saat ini sudah mulai menggunakan sistem digital atau bisa di sebut juga sistem otomasi. Sistem otomasi merupakan sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan bantuan Teknologi Informasi (TI). Dengan otomasi perpustakaan proses pengolahan data koleksi perpustakaan menjadi lebih akurat dan cepat untuk ditelusuri kembali. Otomasi Perpustakaan (Library Automation) juga merupakan pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) untuk kegiatan-kegiatan perpustakaan meliputi pengadaan, pengolahan, penyimpanan dan menyebarluaskan informasi juga mengubah sistem perpustakaan manual menjadi sistem perpustakaan yang terkomputerisasi.

Penggunaan sistem otomasi itu sangat penting. Jika suatu perpustakaan memiliki banyak koleksi dan memiliki banyak peminjam maka sistem otomasi itu sangat berguna sekali. Otomasi perpustakaan juga dapat membantu karyawan-karyawan yang ada di perpustakaan dalam proses pelayanannya dan dapat membantu memudahkan pengguna dalam menemukan informasi yang mereka butuhkan. Hal ini pelayanan yang ada di perpustakaan tersebut dapat dilakukan secara cepat dan akurat. Manfaat dalam menerapkan sistem otomasi antara lain:

  1. Mengatasi keterbatasan waktu
  2. Mempermudah akses informasi dari berbagai pendekatan misalnya dari judul, kata kunci judul, pengarang, kata kunci pengarang dsb.
  3. Dapat dimanfaatkan secara bersama-sama
  4. Mempercepat proses pengolahan, peminjaman dan pengembalian
  5. Memperingan pekerjaan
  6. Meningkatkan layanan
  7. Memudahkan dalam pembuatan laporan statistik
  8. Menghemat biaya

Selain itu juga sistem otomasi memiliki beberapa tujuan yaitu :

  1. Memudahkan integrasi kegiatan perpustakaan.

Dengan adanya otomasi perpustakaan maka ketiga kegiatan ini dapat terintegrasi sehingga stok bahan pustakan secara lasung dapat terpantau dan akan memudahkan pada kegiatan sirkulasi peminjaman maupun untuk kegiatan penelusuran bahan pustakan, karena secara pasti pengguna perpustakaan mengetahui stock bahan pustaka dan di lemari mana bahan pustaka berada.

  1. Memudahkan kerja sama dan pembentukan jaringan perpustakaan.

Dengan adanya otomasi maka akan memudahkan kerjasa antar perpustakaan karena tersedianya alat komunikasi data yang sudah cukup cangggih yaitu jaringan internet. Dengan adanya internet maka antar perpustakan dapat melukan komunikasi setiap saat dan antar perpustakaan juga dapat melakukan pengiriman data dan tukar menukar data dan informasi.

  1. Membantu menghindari duplikasi kegiatan di perpustakaan.

Pada otomasi perpustakaan semua kegiatan pendataan dilakukan secara komputerise sehingga terbangun suatu basis data atau pangkalan data. Dengan adanya basis data ini maka akan terhidari duplikasi kegiatan diperpustakaan.

  1. Menghindari dari pekerjaan yang bersifat mengulang dan membosankan. Dengan menggunakan otomasi perpustakaan kegiatan ini akan mudah dilakukan oleh petugas perpustakan karena cukup memanfaatkan basis data dengan bantuan program atau software komputer maka pencetakan label punggung bahan pustaka, katalog bahan pustakan dan barcode bahan pustaka dengan mudah dapat dilakukan.
  2. Meningkatkan Efisiensi.

Otomasi perpustakaan memberikan dampak yang lebih baik bagi pengelola perpustakaan dan pengguna perpustakaan. Hal ini disebabkan kerena adanya efisiensi yang terjadi dalam otomasi perpsutakaan tersebut. Dengan adanya otomasi perpustakaan maka efisiensi tenaga, waktu dan biaya akan terasa bagi pengelola perpustakaan, demikian juga bagi pengguna perpustakaan karena pengguna perpustakaan dapat mengakses data dan informasi bahan pustaka dari mana dan kapan pun.

Salah satu sistem otomasi yaitu Inlis Lite. Inlis Lite merupakan perangkat lunak (Software) yang dibuat Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 2011. Nama Inlis Lite diambil dari kata Integrated Library System. Perangkat lunak ini dibangun sejak tahun 2003 sebagai keperluan kegiatan rutin pengelolaan informasi perpustakaan di internal Perpusnas.

Seiring dengan perkembangan dunia perpustakaan, khususnya di Indonesia, Perpusnas memandang perlu untuk memfasilitasi semangat pengelola perpustakaan di seluruh daerah untuk memulai menerapkan otomasi perpustakaan menuju terwujudnya perpustakaan digital, maka Perpusnas berinisiatif untuk mendistribusikan perangkat lunak ini dalam versi yang lebih ringan dengan nama Inlis Lite.

Inlis Lite merupakan inisiatif Perpusnas dalam rangka penyediaan sarana pendukung untuk :

  1. Membantu pengembangan otomasi perpustakaan di seluruh Indonesia.
  2. Sebagai tool perpustakaan digital untuk mengelola koleksi full teks dan multimedia
  3. Membantu dalam pembentukan katalog elektronis berbasis MARCuntuk Indonesia (INDOMARC).
  4. Melaksanakan program nasional yang diamanatkan kepada Perpusnas untuk menghimpun data koleksi nasional dalam sebuah Katalog Induk Nasional (KIN) dan Bibliografi Nasional Indonesia (BNI) dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
  5. Membantu pembentukan Katalog Induk Daerah (KID) dan Bibliografi Daerah (BiD) yang diselenggarakan oleh perpustakaan umum provinsi bersama mitra kerjanya di tingkat kabupaten dengan memanfaatkan  teknologi informasi dan komunikasi.

Inlis Lite mempunyai beberapa karakteristik antara lain yaitu yang pertama Perangkat lunak berbasis web (web application software). Dalam pengoperasiannya menggunakan aplikasi browser internet yang umum digunakan untuk menjelajahi informasi di internet. Kedua, Instalasi perangkat lunak INLIS Lite cukup dilakukan pada satu komputer yang difungsikan sebagai pangkalan data. Komputer operator cukup mengkoneksikan dirinya melalui perangkat jaringan, baik secara lokal LANWAN, maupun Internet. Ketiga, Dapat dioperasikan secara bersamaan dalam satu waktu secara simultan (multi user ready). Keempat, Menggunakan metadata MARC (Machine Readable Cataloguing) dalam pembentukan katalog digitalnya. Dan yang terakhir, Bebas pakai atau gratis (freeware).

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia membuat syarat dan ketentuan yang diberlakukan dalam penggunaan Inlis Lite antara lain:

  1. Seluruh perpustakaan lembaga maupun perorangan yang membutuhkan dipersilahkan untuk menyalin, menginstalasi, dan memanfaatkan perangkat lunak aplikasi Inlis Lite.
  2. Seluruh perpustakaan lembaga maupun perorangan yang membutuhkan dipersilahkan untuk menyalin dan menginstalasi komponen perbaikan program (patch) dan komponen pemutakhir program (update) apabila tersedia.
  3. Dilarang memperjualbelikan paket instalasi, komponen perbaikan (patch), maupun komponen pemutakhir (update) prgram aplikasi Inlis Lite.
  4. Dukungan teknis (technical support) akan diberikan oleh Perpusnas kepada pengguna perangkat lunak Inlis Lite selama mematuhi syarat dan ketentuan yang berlaku. Untuk mendapatkan dukungan teknis seperti bantuan dalam melakukan instalasi, update, pemecahan masalah, dan backup data dapat ditempuh dengan beberapa cara :
  • Panduan via perangkat komunikasi (telepon dan chatting)
  • Penanganan oleh tim technical support secara remote menggunakan program aplikasi remote desktop seperti Windows Remote Desktop, TeamViewer, dan sejenisya
  • Mengirimkan internal storage unit (Harddisk) melalui jasa pengiriman barang.
  • Mengirimkan unit CPU komputer melalui jasa pengiriman barang.
  • Datang langsung ke Perpustakaan Nasional RI dengan membawa komputer yang akan diinstalasi / akan dilakukan pemecahan masalah
  • Mengundang staf teknis Perpustakaan Nasional RI sesuai peraturan perjalanan dinas yang berlaku
  1. Bimbingan teknis akan diberikan oleh Perpusnas selama mematuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia juga membuat Modul-Modul dan Fitur Inlis Lite. Modul-modul utama dan yang ada pada versi ini adalah Back Office, OPAC (Online Public Access Catalogue), Keanggotaan Online, Pendaftaran Anggota (Mandiri), dan Checkpoint (Buku Tamu).

Modul back office adalah bagian dari program aplikasi yang operasionalisasinya hanya boleh dilakukan oleh operator yang diberikan akun berupa username dan password serta hak akses tertentu sesuai dengan wewenang yang diberikan kepadanya. Dengan username dan password tersebut, operator dapat mengakses modul back office melalui mekanisme login. Modul Back Office dibagi menjadi beberapa bagian antara lain yang pertama Modul Akuisisi. Modul ini digunakan untuk melakukan pengelolaan terhadap data koleksi atau item atau eksemplar yang diadakan (diakuisisi). Di dalam modul back office ini terdapat beberapa sub-sub modul sebagai berikut:

  1. Setting Akuisisi

Merupakan penentuan parameter-parameter dan master data yang akan dikaitkan dengan data koleksi yang diadakan. Setting akuisisi terdiri dari setting rekanan (vendor/distributor), seting kategori koleksi, setting sumber koleksi (sumber perolehan), setting media koleksi, setting lokasi (penempatan koleksi), dan setting nomor induk koleksi. Sebaiknya perubahan setting hanya dilakukan oleh seseorang yang diberi wewenang sebagai Administrator sistem.

  1. Entri Koleksi

Merupakan sarana untuk memasukkan data koleksi. Di beberapa perpustakaan besar seperti Perpustakaan Nasional RI, alur kerja pengelolaan bahan pustaka dimulai dari kegiatan registrasi koleksi, setelah itu barulah dibuatkan data katalognya. Untuk perpustakaan alur kerjanya lebih sederhana, entri koleksi dapat dilakukan setelah pembuatan katalog di modul Katalog.

  1. Daftar Koleksi

Merupakan sarana untuk menampilkan daftar dan mencari koleksi atau item atau eksemplar yang telah diinput melalui form entri koleksi, baik dalam modul akuisisi maupun modul katalog.

  1. Daftar Usulan Koleksi

Ini adalah fitur tambahan yang masih memerlukan pengembangan lebih lanjut. Di sini akan ditampilkan data-data koleksi yang diusulkan oleh anggota perpustakaan melalui form usulan dalam modul OPAC

  1. Import Data dari Excell

Merupakan sarana untuk melakukan import data koleksi (hasil hunting) yang diketik dalam format dokumen Excell

  1. Stock Opnam

Stock Opnam adalah sarana untuk melakukan invertarisasi ulang terhadap koleksi yang dimiliki. Membandingkan antara data koleksi yang terimpan dalam pangkalan data dengan data koleksi fisik.

Sub-sub bab yang kedua Modul Katalog. Modul ini digunakan untuk mengelola data katalog serta menghubungkannya dengan data koleksi / item / eksemplar. Ketiga, Modul Keanggotaan Modul ini digunakan untuk melakukan pengelolaan data anggota perpustakaan. Dalam modul ini disediakan fitur untuk melakukan pengambilan foto secara langsung dengan web camera dan mencetak kartu anggota. Keempat, Modul Sirkulasia adalah modul yang digunakan untuk melakukan pencatatan transaksi peminjaman dan pengembalian koleksi. Kelima, Modul Laporan. Modul laporan adalah sarana untuk membentuk dokumen laporan sesuai kriteria yang diatur oleh operator, dan yang terakhir Modul Administrasi. Modul ini hanya boleh diakses oleh petugas yang diberi wewenang sebagai administrator.

Modul OPAC (Online Public Access Catalogue). Modul Online Public Access Catalogue (OPAC) adalah sarana bagi pemustaka untuk mencari data koleksi yang dibutuhkannya. Tidak perlu login untuk membuka modul program ini.

Modul Keanggotaan Online. Modul keanggotaan online dapat digunakan oleh anggota perpustakaan untuk melihat profil keanggotaannya serta daftar transaksi peminjaman yang pernah dilakukannya. Modul ini juga dapat dijadikan pengingat bila anggota tersebut belum mengembalikan koleksi yang dipinjamnya. Ke depan, modul ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi sarana untuk menampilkan transaksi baca di tempat, melakukan pemesanan bahan pustaka, serta mengajukan saran dan pertanyaan seputar layanan perpustakaan.

Modul Pendaftaran Anggota (Mandiri). Ini merupakan sarana untuk pendaftaran keanggotaan secara mandiri. Dengan adanya modul ini diharapkan beban petugas layanan menjadi lebih ringan karena calon anggota dapat menginput sendiri data-datanya saat mendaftar menjadi anggota.

Modul Checkpoint (Buku Tamu). Modul ini sebenarnya adalah buku tamu elektronik yang dapat digunakan sebagai pengganti buku tamu tradisional (tulis tangan). Dengan adanya modul ini diharapkan pencatatan data pengunjung perpustakaan menjadi lebih cepat dan laporan data pengunjung dapat segera terlihat kapanpun dibutuhkan. Saat ini jenis pengunjung yang dapat dicatat adalah anggota dan non anggota. Pada versi INLIS Lite berikutnya akan ditambah dengan pencatatan data pengunjung rombongan.


RFID (Radio Frequency Identification)

rfidsys

Radio Frequency Identification) atau Identifikasi Frekuensi Radio adalah sebuah metode identifikasi dengan menggunakan sarana yang disebut label RFID atau transponder untuk menyimpan dan mengambil data jarak jauh. Label atau kartu RFID adalah sebuah benda yang bisa dipasang atau dimasukkan di dalam sebuah produk, hewan atau bahkan manusia dengan tujuan untuk identifikasi menggunakan gelombang radio. Label RFID berisi informasi yang disimpan secara elektronik dan dapat dibaca hingga beberapa meter jauhnya. Sistem pembaca RFID tidak memerlukan kontak langsung seperti sistem pembaca kode batang (bahasa Inggris: barcode). Label RFID terdiri atas mikrochip silikon dan antena. Beberapa ukuran label RFID dapat mendekati ukuran sekecil butir beras. Label yang pasif tidak membutuhkan sumber tenaga, sedangkan label yang aktif membutuhkan sumber tenaga untuk dapat berfungsi.

RFID dapat digunakan dalam berbagai aplikasi seperti

  • Manajemen akses
  • Pelacakan barang
  • Pengumpulan dan pembayaran tol tanpa kontrak langsung
  • Mesin pembaca dokumen berjalan
  • Pelacakan identitas untuk memverifikasi keaslian
  • Pelacakan bagasi di bandara

Sistem RFID

RFID terdiri dari beberapa komponen yaitu : tag, tag reader, tag programming station, circulation reader, sorting equipment dan tag inventory wands. Penggunaan RFID pada saat digunakan untuk identifikasi hewan, untuk perpusatakaan, UHF untuk container tracking dan lain-lain (lihat RFID Wilkipedia).

Cakupan penggunaan RFID

RFID melengkapi UPC atau EAN bar code dengan kapasitas, biaya, dan kelengkapan identifikasi setiap barang dalam supply chain, untuk rumah sakit dalam hal medical records, untuk dirumah dan baru-baru ini digunakan untuk membuat produk jam pintar yang dapat mengingatkan sipemilik jika ia keluar dari pintu namun ia lupa membawa hal penting yang seharusnya dibawa. Untuk beberapa tahun mendatang penggunaannya akan semakin meluas. Contohnya untuk passport (lit Forecast, Opportunities).

Komponen RFID

Berbeda dengan smart card yang biasa dipakai di kartu telepon atau kartu bank yang juga menggunakan silikon chip, kode-kode RFID tag bisa dibaca pada jarak yang cukup jauh Suatu sistem RFID secara utuh terdiri atas 3 komponen yaitu :

  1. Tag RFID, dapat berupa stiker, kertas atau plastik dengan beragam ukuran. Didalam setiap tag ini terdapat chip yang mampu menyimpan sejumlah informasi tertentu.
  2. Terminal Reader RFID, terdiri atas RFID-reader dan antena yang akan mempengaruhi jarak optimal identifikasi. Terminal RFID akan membaca atau mengubah informasi yang tersimpan didalam tagmelalui frekuensi radio. Terminal RFID terhubung langsung dengan sistem Host Komputer.
  3. Host Komputer, sistem komputer yang mengatur alur informasi dari item-item yang terdeteksi dalam lingkup sistem RFID dan mengaturkomunikasi antara tag dan reader. Host bisa berupa komputerstand-alonemaupun terhubung ke jaringan LAN / Internet untuk komunikasi denganserver.

Tag RFID

Label RFID atau yang biasa disebut RFID tag sendiri, pada dasarnya merupakan suatu microchip berantena, yang disertakan pada suatu unit barang. Dengan piranti ini, perusahaan bisa mengidentifikasi dan melacak keberadaan suatu produk. Seperti halnya barcode, yang memilikiUniversal Product Code(UPC), sebuah tag RFID memiliki Electronic Product Code (EPC) berisi identitas produk tersebut, mulai dari nomor seri, tanggal produksi, lokasi manufaktur, bahkan tanggalkadaluarsa.EPC adalah identifikasi produk generasi baru, mirip dengan UPC atau barcode. Seperti halnya barcode, EPC terdiri dari angka-angka yang menunjukkan kode produsen, produk, versi dan nomor seri. Namun, EPCmemiliki digit ekstra untuk mengidentifikasi item yang unik. Ukuran bit EPC yang mencapai 96-bit memungkinkannya secara unik mengidentifikasi lebih dari 268 juta produsen, masing-masing memiliki lebih dari satu juta jenis produk, sementara sisanya masih mencukupi untuk melabel seluruh produkindividualnya. Informasi EPC inilah yang tersimpan di dalam chip RFID.

RFID tag dapat bersifat aktif atau pasif.

RFID Pasif

RFID tag yang pasif tidak memiliki power supply sendiri. Dengan hanya berbekal induksi listrik yang ada pada antena yang disebabkan oleh adanya frekuensi radio scanning yang masuk, sudah cukup untuk memberi kekuatan yang cukup bagi RFID tag untuk mengirimkan respon balik.Sehubungan dengan power dan biaya, maka respon dari suatu RFID yang pasif biasanya sederhanya, hanya nomor ID saja. Dengan tidak adanya power supply pada RFID tag yang pasif maka akan menyebabkan semakin kecilnya ukuran dari RFID tag yang mungkin dibuat. Beberapa RFID komersial yang saat ini sudah beredar di pasaran ada yang bisa diletakkan di bawah kulit. Pada tahun 2005 tercatat bahwa RFID tag terkecil berukuran 0.4 mm x 0.4 mm dan lebih tipis daripada selembar kertas. Dengan ukuran sekian maka secara praktis benda tersebut tidak akan terlihat oleh mata. RFIDtag yang pasif ini memiliki jarak jangkauan yang berbeda mulai dari 10 mm sampai dengan 6meter. RFID tag yang pasif harganya bisa lebih murah untuk diproduksi dan tidak bergantung pada baterai.

RFID aktif

RFID tag yang aktif, di sisi lain harus memiliki power supply sendiri dan memiliki jarak jangkauan yang lebih jauh. Memori yang dimilikinya juga lebih besar sehingga bisa menampung berbagai macam informasi didalamnya. Jarak jangkauan dari RFID tag yang aktif ini bisa sampai sekitar100 meter dan dengan umur baterai yang bisa mencapai beberapa tahun lamanya. Perbedaan sifat antara RFID aktif dan pasif dapat dilihat pada tabel dibawah ini

RFID tag juga dapat dibedakan berdasarkan tipe memori yang dimilikinya :

  1. Read / Write (Baca/Tulis) Memori baca/tulis secara tidak langsung sama seperti namanya,memorinya dapat dibaca dan ditulis secara berulang-ulang. Data yang dimilikinya bersifat dinamis.
  2. Read only (Hanya baca) Tipe ini memiliki memori yang hanya diprogram pada saat tag ini dibuat dan setelah itu datanya tidak bisa diubah sama sekali. Data bersifat statis.

Teknologi RFID memanfaatkan komponen chip memori yang mampu menampung informasi lebih banyak. Apalagi mengingat teknologi ROM (Read Only Memory) yang telah sampai pada kemampuan tulis dan baca secara elektrik , EEPROM. Maka, tidaklah mengherankan bila teknologi RFID mampu tidak sekedar membaca kode tetapi bahkan menyimpan kegiatan transaksi pada memori. Selain itu, kapasitas memori sebuah Transponder pun memungkinkan bervariasi dari kapasitas 64 bit , yang berisi kode unik saja, hingga 64kB yang mampu menyimpan kegiatan transaksi hingga orde ratusan.

Teknologi RFID mengadopsi teknologi akses jamak untuk mendukung kemampuan pembacaan multi tag. Dengan teknologi tersebut, beberapa transponder dapat diidentifikasi, diproses secara simultan. Sehingga, pemakaian teknologi ini cukup praktis. Pembacaan barang-barang dapat dilakukan secara simultan dan bahkan tanpa perlu campur tangan manusia karena penggunaan media GEM.

Keuntungan RFID

  1. Data yang dapat ditampung lebih banyak daripada alat bantu lainnya (kurang lebih 2000 byte)
  2. Ukuran sangat kecil (untuk jenis pasif RFID) sehingga mudah ditanamkan dimana-mana
  3. Bentuk dan design yang flexibel sehingga sangat mudah untuk dipakai diberbagai tempat dan kegunaan karena chip RFID dapat dibuat dari tinta khusus.
  4. Pembacaan informasi sangat mudah, karena bentuk dan bidang tidak mempengaruhi pembacaan, seperti sering terjadi pada barcode, magnetik dll.
  5. Jarak pembacaan yang flexibel bergantung pada antena dan jenis chip RFID yang digunakan.Seperti contoh autopayment pada jalan tol, penghitungan stok pada ban berjalan, access gate.
  6. Kecepatan dalam pembacaan data.

Kelemahan RFID

  1. Tag hanya dapat mengirimkan informasi dalam jarak yang dekat dan pembaca RFID harus menyediakan daya tambahan untuk tag RFID.
  2. Pemilihan dari frekuensi kerja sistem RFID akan mempengaruhi jarak komunikasi, interferensi dengan frekuensi sistem radio lain, kecepatan komunikasi data, dan ukuran antena.
  3. Pada frekuensi rendah, tag pasif tidak dapat mentransmisikan data dengan jarak yang jauh, karena keterbatasan daya yang diperoleh dari medan elektromagnetik.
  4. Sinyal elektromagnetik pada frekuensi tinggi juga mendapatkan pelemahan (atenuasi) ketika tag tertutupi oleh es atau air. Pada kondisi terburuk, tag yang tertutup oleh logam tidak terdeteksi oleh pembaca RFID.
  5. Akan terjadi kekacauan informasi jika terdapat lebih daripada 1 chip RFID melalui 1 alat pembaca secara bersamaan, karena akan terjadinya tabrakkan informasi yang diterima oleh pembaca.
  6. Jika terdapat frekuensi overlap (dua frekuensi dari pembaca berada dalam satu area) dapat memberikan informasi data yang salah pada komputer/pengolah data sehingga tingkat akuransi akan berkurang.
  7. Gangguan akan terjadi jika terdapat frekuensi lain yang dipancarkan oleh peralatan lainnya yang bukan diperuntukkan untuk RFID, sehingga chip akan merespon frekuensi tersebut (frekuensi Wifi, handphone, radio pemancar, dll).

Privasi seseorang akan secara otomatis menjadi berkurang, karena siapa saja dapat membaca informasi dari diri seseorang dari jarak jauh selama orang tersebut memiliki alat pembaca.


×
Hello Ritz Production..